Pages - Menu

Monday, 13 February 2017

Terkadang, Kamu Tahu Namanya. Tapi Tidak Ceritanya.


I heard that you've been
Self-medicating in the quiet of your room,
Your sweet, suburban tomb.
And if you need a friend,
I'll help you stitch up your wounds.

I heard that you've been
Having some trouble finding your place in the world.
I know how much that hurts,
But if you need a friend
Then please just say the word.

Ada titik di mana setiap manusia merasakan titik nadirnya. Dimana dia bakal merasa, "Ok tugas gue selesai." But, actually not!

Ada saatnya setiap manusia butuh waktu untuk sendiri, atau minimal melepaskan rasa mengganjal di hatinya entah dengan cara apapun. Semua orang berbeda.

Gue? Memilih untuk terus larut dalam rasa yang menjengkelkan tersebut. Gue ngerti, gue sebentar lagi nambah umur. But, ya this is me. Gue malah merasa beruntung untuk bisa terus menjadi pribadi yang seperti ini. Meskipun terkadang, gue merasa ini semua gak baik. Tapi, kalo gue jadi pribadi yang keras hati, gue bakal jadi jarang nangis, dan gak peka sama sekitar. Gue gak mau seperti itu.

Gue besar dari bokap yang keras. Tapi gue gak bisa dilepasin sama nyokap yang selalu lembut, yang selalu ngajarin gue untuk lebih peka sama perasaan orang lain. Dan pribadi asli gue? Gue dilahirkan untuk selalu membahagiakan orang, entah bagaimana perlakuan orang tersebut.

Ya, gak semua orang adalah orang yang gue sayang. Tapi saat gue senyum denger candaan receh mereka, atau ketawa denger candaan yang sebenernya nyakitin hati gue, ketahuilah kalau gue mencoba menjaga perasaan mereka. Mencoba untuk mencairkan suasana, mencoba untuk menjaga hubungan baik. Gue gak mau emosi gue lepas dan hancurin segalanya. Karena gue pernah kehilangan segalanya dengan emosi sesaat gue. Itu kenapa, gue pernah bilang, "Gue kalo diem, tandanya lagi nahan emosi atau lagi sedih. Hibur gue, atau kalau bisa kasih peluk. Gue selalu butuh hal kecil itu."

Ada cerita yang gue bagi di setiap hari dengan tujuan kalian ngerti diri gue dan tahu harus apa memperlakukan gue. Dan gue rasa, banyak orang di luar sana yang melakukan hal yang sama juga karena mereka percaya bahwa orang yang mengerti tentang ceritanya bisa menjadi orang yang menghargai perasaanya kelak. Atau beruntungnya, orang-orang tersebut bisa menjadi obat untuknya.

"Jika kalian tidak bisa membahagiakan, setidaknya kalian tidak mengecewakan."

Sumpah, saat gue nulis ini, gue lagi nahan air mata. (Edited: Akhirnya tumpah juga.)

Please, stop bikin candaan tentang orang lain saat kalian hanya mengerti secuil dari ceritanya. Karena hati orang gak ada yang tahu. Apakah dia kuat menerima candaan itu atau gak. Apakah dia punya trauma tentang candaan itu atau gak. Ya, terkadang kita cuma tahu namanya tapi gak ceritanya.

Sebenernya, gak cuma tentang candaan, Terkadang judge, penilaian sepihak juga bisa menyakitkan orang lain. Dan manusia, terkadang lupa untuk lebih banyak diam, untuk jadi orang yang lebih baik. Manusia, lebih suka untuk mengucapkan apa yang ia tahu bukan mengetahui apa yang ia ucapkan. Ya, judge terkadang terlalu sadis untuk dirasakan beberapa orang, saat yang lain menganggap judge itu wajar karena setiap manusia berhak berkomentar.

"Sometimes, you need to be broken before you know what really happen on the broken people."

Gue gak menyalahkan apa yang orang-orang lakukan di sekitar. I mean, ya gue mengerti beberapa orang hanya berpikiran "ketawa yuk" tanpa memikirkan "dia ok gak ya kalo gue begini?" Terkadang, tertawa hanya butuh pemikiran yang pendek. Tapi bahagia, butuh pemikiran yang lebih panjang.

Kadang, pengen gue pindahin hidup gue ke mereka, pengen tahu apa mereka kuat untuk mendengar candaan dan judge yang ada. Kadang, gue pengen bacot kayak pas gue main game, tapi gue gak bisa. Karena saat gue bacot untuk ngelurusin apa yang ada, gue takut menyakiti hati mereka meskipun mereka gak peduli sama perasaan gue.

Pernah bercanda dengan kata "perkosa" disaat kalian ngobrol di depan perempuan? Yang bahkan kalian gak tahu mungkin dulunya dia punya masa lalu yang kelam? Pernahkah kita sedikit peka, entah perempuan itu masa lalunya kelam atau gak, kita ngerti, harusnya kita ngerti, kalo becanda dengan kata "perkosa" itu gak etis.

Atau, pernahkah kalian melihat perempuan botak di jalan kemudian tertawa karena beranggapan bahwa dia gak pantes dicukur botak, padahal kalian gak tahu jika orang tersebut sedang sakit kanker?

Hmm, mungkin juga kalian pernah bilang sama orang "Lu, kalo gue mau minjem duit, selalu bilang gak ada, tapi adik lu selalu keliatan bahagia sama lu. Gue gak dianggep temen?" padahal orang yang kalian judge seperti itu punya seabreg masalah di rumah dengan orang tuanya dan dia sedang membahagiakan adiknya yang pastinya butuh kasih sayang.

Ya, dan masih banyak contoh lain yang mungkin kalian pernah mengalaminya. Pernah berpikiran lebih panjang saat becanda ataupun menilai seseorang? Wake up, dude! Mental orang bisa jatuh dan hancur jika terus diperlakukan seperti itu.

Lalu apa makna dari tulisan ini? Gue cuma mau ngurangin satu hal yang sangat-sangat mengganjal di kepala gue. Sambil ngelepas beban dipundak dan rasa sesek di dada gue. Gue, cuma bisa nulis. Ya, begini jadinya. Mungkin kalo gue bisa ngegambar, gue bakal ngegambar.

Trus, itu lagu Missing You-nya All Time Low kenapa gue kasih di tulisan ini. Selain emang itu lagu anthem hidup, liriknya juga bagus. Kita kadang nyembuhin diri sendiri dari luka yang dikasih orang lain. Meskipun sebenernya, kita butuh seseorang untuk bantu kita nyembuhin luka tersebut.




Kuatnya manusia, bukan dilihat dari berapa besar ototnya.
  Bukan pula dari seberapa berat beban di tangannya yang bisa dia angkat.
    Atau sebanyak apa pukulan yang ia terima.

Tapi kuatnya manusia ada saat dia tersakiti lalu tersenyum.
Ada saat dia dibanting lalu bangkit kembali.  
Juga saat dia menangis untuk mengalah dan memaafkan.     

No comments:

Post a Comment